Istighfar yang paling sempurna atau penghulu istighfar (sayyidul istighfar)

Istighfar yang paling sempurna atau penghulu istighfar (sayyidul istighfar)

Rasul dan suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak beristigfar dan bertaubat padahal beliau adalah orang yang telah diampuni dosa yang telah lalu dan akan datang. Sebagaimana hal ini terdapat pada firman Allah,

?????? ????????? ???? ??????? ???????? (1) ?????????? ???? ??????? ??? ????????? ???? ???????? ????? ????????? ????????? ?????????? ???????? ???????????? ???????? ????????????

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata , supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni’mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus.” (Qs. Al Fath: 1-2)

Dalam kitab shohih, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, berkata:

????? ??????? ??????? -??? ???? ???? ????- ????? ?????? ????? ?????? ????????? ????????? ??????? ????????? ??? ??????? ??????? ?????????? ????? ?????? ?????? ???? ??? ????????? ???? ???????? ????? ????????? ??????? . ??? ????????? ??????? ??????? ??????? ????????

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa shalat sehingga kakinya pecah-pecah. Kemudian aku mengatakan kepada beliau, ‘Wahai rasulullah, kenapa engkau melakukan hal ini padahal engkau telah diampuni dosa yang telah lalu dan akan datang.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Tidakkah engkau menyukai aku menjadi hamba yang bersyukur.’” (HR. Muslim no. 7304)


Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, “Inilah kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seorang pun tidak ada yang menyamainya. Tidak ada dalam satu hadits shohih pun yang menceritakan tentang balasan amalan kepada selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa dosanya yang telah lalu dan akan datang akan diampuni. Inilah yang menunjukkan kemuliaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala perkara ketaatan, kebaikan dan keistiqomahan yang tidak didapati oleh manusia selain beliau, baik dari orang yang terdahulu maupun orang yang belakangan. Beliaulah manusia yang paling sempurna secara mutlak dan beliaulah pemimpin (sayid) seluruh manusia di dunia dan akhirat.”

Walaupun dosa-dosa beliau telah diampuni, namun beliau shallalahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak beristigfar di setiap waktu. Para sahabat telah menghitung dalam setiap majelisnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat paling banyak beristigfar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

????????? ?????? ????????????? ??????? ????????? ???????? ??? ????????? ???????? ???? ????????? ???????

Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

??? ???????? ???????? ??????? ????? ??????? ???????? ??????? ??? ????????? ???????? ??????? ???????

Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)

Dan bacaan istighfar yang paling sempurna adalah penghulu istighfar (sayyidul istighfar) sebagaimana yang terdapat dalam shohih Al Bukhari 

Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Penghulu istighfar adalah apabila engkau mengucapkan:

??????????? ?????? ??????? ??? ??????? ?????? ??????? ???????????? ??????? ????????? ??????? ????? ???????? ?????????? ??? ???????????? ???????? ???? ???? ????? ??? ????????? ???????? ???? ???????????? ???????? ?????????? ?????????? ????????? ???? ????????? ??? ???????? ??????????? ?????? ??????

Allahumma anta robbi laa ilaha illa anta, kholaqtani wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu, abuu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu-u bi dzanbi, faghfirliy fainnahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta

[Ya Allah! Engkau adalah Rabbku, tidak ada Rabb yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau].” (HR. Bukhari no. 6306)

Faedah dari bacaan ini adalah sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan dari lanjutan hadits di atas,

?????? ???????? ???? ?????????? ???????? ????? ? ??????? ???? ???????? ?????? ???? ???????? ? ?????? ???? ?????? ?????????? ? ?????? ???????? ???? ????????? ?????? ??????? ????? ? ??????? ?????? ???? ???????? ? ?????? ???? ?????? ?????????? »

Barangsiapa mengucapkannya pada siang hari dan meyakininya, lalu dia mati pada hari itu sebelum waktu sore, maka dia termasuk penghuni surga. Dan barangsiapa mengucapkannya pada malam hari dalam keadaan meyakininya, lalu dia mati sebelum waktu pagi, maka dia termasuk penghuni surga.”

Hadits sayyidul istigfar ini meliputi makna taubat dan terdapat pula hak-hak keimanan. Di dalam hadits ini juga terkandung kemurnian ibadah dan kesempurnaan ketundukan serta perasaan sangat butuh kepada Allah. Sehingga bacaan dzikir ini melebihi bacaan istigfar lainnya karena keutamaan yang dimilikinya. –Semoga kita termasuk orang yang selalu merutinkannya di setiap pagi dan sore-

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah tentang sabda nabi, “Sayidul Istighfar yaitu seorang hamba mengatakan ‘Allahumma anta rabbi laailaahailla anta‘ ..” hadits ini mencakup pengetahuan yang berharga yang karenanya dikatakan sebagai sayyidul istigfar. Karena inti hadits ini adalah pengenalan hamba tentang Rububiyyah Allah, kemudian mengagungkan-Nya dengan tauhid Uluhiyyah (Laa ilaaha illa anta) kemudian pengakuan bahwa Dialah Allah yang menciptakannya dan mengadakannya yang sebelumnya tidak ada , maka Dia yang lebih layak untuk berbuat ihsan kepada-Nya atas ampunan dosanya sebagaimana perbuatan ihsan atasnya karena penciptaan dirinya

Kemudian perkataan “Wa ana abduka“ yaitu keyakinannya akan perkara ubudiyah, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan Ibnu Adam untuk diri-Nya dan beribadah kepda-Nya sebagaimana disebutkan dalam sebagian atsar Allah ta’ala berfirman, Wahai Ibnu Adam Aku ciptakan engkau untuk-Ku dan Aku ciptakan segala sesuatu karenamu, maka karena hak-Ku atasmu maka jangan kau sibukan dengan apa yang telah Aku citpakan untukmu dari yang Aku ciptakan kamu untuknya (ibadah). Di dalam atsar yang lain disebutkan “Wahai Ibnu Adam Aku ciptakan engkau untuk beribadah kepada-Ku maka jangan bermain-main, dan Aku telah menjaminmu dengan rizkimu maka jangan merasa lelah (dari berusaha), Wahai Ibnu Adam mintalah kepada-Ku niscaya engkau akan dapati Aku, jika engkau mendapatkan Aku maka engkau akan mendapatkan segala sesuatu, jika engkau luput dari Aku maka engkau akan luput pula dari segala sesuatu, dan Aku mencintai kamu dari segala sesuatu”

Maka seorang hamba apabila keluar dari apa yang Allah ciptakan untuknya berupa ketaatan dan ma’rifat kepada-Nya, mencintai-Nya, inabah (kembali) kepada-Nya dan tawakal atas-Nya, maka dia telah lari dari tuannya. Apabila taubat dan kembali kepada-Nya maka dia telah kembali kepada apa yang Allah cintai, maka Allah akan senang dengan sikap kembali ini. Oleh karena itu Nabi shallahllahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang berita dari Allah “Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubatnya hamba dari pada gembiranya seseorang yang mendapatkan kembali tungganganya yang hilang di suatu tempat dengan membawa makanan dan minumannya, “ Dialah yang memberikan taufiq kepadanya dan Dia pula yang mengembalikan barangnya kepadanya” maka ini adalah ihsan dan karunia Allah atas hamba-Nya. Maka hakikat dari ini adalah agar tidak ada sesuatu yang lebih dicintai hamba kecuali Allah.

Kemudian sabdanya : “Wa ana ala ahdika wawa’dika mastathotu,” maka Allah menjanjikan kepada hamba-hamba-Nya dengan suatu perjanjian yang Allah perintahkan dan larang padanya, kemudian Allah menjanjikan bagi yang menunaikannya dengan suatu janji pula yaitu memberikan pahala bagi mereka dengan setinggi-tingginya pahala. Maka seorang hamba berjalan diantara pelaksanaan atas perjanjian Allah kepadanya dengan pembenaran akan janji-Nya, artinya saya melaksanakan perjanjian-Mu dan membernarkan akan janji-Mu.

Makna ini sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi “Barangsiapa berpuasa ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni baginya dosa-dosa yang telah lalu.” Perbuatan iman yaitu perjanjian yang Allah tawarkan kepada hamba-hanba-Nya sedang ihtisab yaitu pengharapan pahala Allah atas keimanan. Maka ini tidaklah pantas kecuali harus bersamaan dengan sikap pembenaran atas janji-Nya. Dan sabdanya “ Imanan wah tisaaban” ini adalah manshub atas maf’ul lahu yang sesungguhnya terkandung padanya pengertian bahwa Allah mensyariatkan, mewajibkan, meridhoinya dan memerintahkan dengannya. Sedang mengharap pahala dari Allah yaitu dengan mengerjakan amalan dengan ikhlas disertai mengharap pahala-Nya.

Sabdanya “mastatho’tu” yaitu bahwa tidaklah aku melaksanakan semua itu kecuali sebatas kemampuanku bukan atas apa yang semestinya dan wajib bagiku. Ini menunjukan dalil atas kekuaran dan kemampuan hamba, dan bahwasanya hamba tersebut tidaklah dipaksa atasnya, bahkan baginya ada kemampuan yaitu berupa beban perintah, larangan, pahala dan siksa. Pada hadis tersebut terdapat bantahan atas Qodariyah yang mengatakan bahwa sesungguhnya bagi hamba tidak memiliki kekuasaan, kemampuan atas perbuatanya sama sekali, akan tetapi hanya siksa Allah atas perbuatan-Nya bukan atas perbuatan hamba-Nya. Pada hadits ini juga terdapat bantahan terhadap kelompok Majusiyah (penyembah api) dan selain mereka

Kemudian perkataan : “Audzubika min syarri ma shana’tu
Berlindung kepada Allah kemudian menggantungkan diri kepada-Nya, membentengi diri dengan-Nya, lari kepada-Nya dari apa yang dia takutkan, sebagaimana seorang yang lari dari musuh dengan berlindung di balik prisai yang menyelamatkan dia darinya. Pada hadits ini ada penetapan tentang perbuatan dan usaha dari hamba. Dan bahwa kejelekan disandarkan kepada yang berbuat bukan kepada pencipta dari kejelekan itu, maka perkataan “Audzubika min syari ma shana’tu.”

Bahwa kejelekan itu hanya dari hamba, adapun Rabb maka baginya nama-nama yang baik dan segala sifat yang sempurna. Maka setiap perbutan-perbuatan-Nya penuh hikmah dan maslahat, hal ini dikuatkan dengan sabdanya “dan kejelekan itu bukan kepada-Mu.” (HR Muslim dalam Doa istiftah)

Kemudian perkataan “Abuu bini’matika alayya“ artinya aku mengetahui akan perkara ini, yaitu aku mengenalmu akan pemberian nikmat-Mu atasku. Dan sesungguhnya aku adalah orang yang berdosa, dari-Mu perbuatan ihsan dan dariku perbutan dosa, dan aku memuji-Mu atas nikmat-Mu dan Engkaulah yang lebih berhak atas pujian dan aku meminta ampun atas dosa-dosaku.

Oleh karena itu berkata sebagian orang-orang arif : semestinya bagi seorang hamba agar jiwanya mempunyai dua hal yaitu jiwa yang senatiasa memuji rabbnya dan jiwa yang senatiasa meminta ampun atas dosanya. Dari sini ada sebuah kisah Al Hasan bersama seorang pemuda yang duduk di masjid seorang diri dan tidak bermajlis kepadanya, maka ketika suatu hari lewat kepadanya beliau berkata “Apa sebabnya engkau tidak bermajelis dengan kami, maka pemuda itu menjawab “ pada waktu itu aku berada diantara nikmat Allah dan dosaku yang mengharuskan aku memuji-Nya atas nikmat tersebut dan istighfar atas dosaku, dan aku ketika itu sibuk memujinya dan beristighfar kepada-Nya dari bermajelis kepadamu, maka berkata Al Hasan“ engkau lebih fakih menurutku dari Al Hasan.

Dan kapan seorang hamba bersaksi dengan dua perkara ini maka akan istiqomahlah peribadatannya kepada-Nya dan akan naik kepada derajat ma’rifat dan iman sehingga akan terus merasa kecil dihadapan Allah maka akan semakin tawadhu kepada Rabbnya, dengan demikian ini adalah kesempurnaan peribadatan Kepada-Nya dan berlepas diri dari sikap ujub, sombong dan tipuan amal.

Saudaraku… Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja yang sudah dijamin dosanya yang telah lalu dan akan datang akan diampuni, bagaimana lagi dengan kita yang tidak dijamin seperti itu[?] Sungguh, kita sebenarnya yang lebih pantas untuk bertaubat dan beristighfar setiap saat karena dosa kita yang begitu banyak dan tidak pernah bosan-bosannya kita lakukan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

??? ???????? ????????? ??????????? ??????????? ???????????? ??????? ???????? ?????????? ???????? ????????????????? ???????? ??????

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di waktu siang dan malam, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.” (HR. Muslim no. 6737)

Semoga Allah mengaruniakan kita untuk selalu mengikuti jejak beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah memberikan kepada kita akhir hidup yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Mengabulkan do’a.

diambil dari:
* http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/nabi-tidak-pernah-bosan-beristighfar.html oleh Muhammad Abduh tuasikal
*http://www.abuayaz.co.cc/2010/05/sayyidul-istighfar-istighfar-paling.html
*audioSyarah Sayyidul Istighfar by http://www.radiorodja.com/

LAKUKAN YANG TERBAIK YANG BISA KITA LAKUKAN

Suatu hari, Prof Dr Ravik Karsidi, Rektor UNS, melakukan perjalanan dari Jogya ke Jakarta naik pesawat.

Karena keberangkatan pesawat ditunda 1 jam beliau menunggu di salah satu lounge bandara Adisucipto dgn sekedar minum kopi.

Di depannya duduk seorang ibu sudah agak tua, memakai pakaian Jawa tradisional kain batik dan kebaya, wajahnya tampak tenang dan keibuan.

Sekedar mengisi waktu, diajaknya ibu itu ber-cakap².

mau pergi ke Jkt, bu ?

Iya nak, hanya transit di cengkareng terus ke Singapura

Kalau boleh bertanya, ada keperluan apa ibu pergi ke Singapura ?

Menengok anak saya yang nomor dua nak, istrinya melahirkan di sana terus saya diberi tiket dan diuruskan paspor melalui biro perjalanan. Jadi saya tinggal berangkat tanpa susah mengurus apa².

Puteranya kerja dimana, bu ?

Anak saya ini insinyur perminyakan, kerja di perusahaan minyak asing, sekarang jadi kepala kantor cabang Singapura

Berapa anak ibu semuanya?

Anak saya ada 4 nak, 3 laki², 1 perempuan. Yang ini tadi anak nomer 2. Yang nomer 3 juga laki², dosen fakultas ekonomi UGM, sekarang lagi ambil program doktor di Amerika. Yang bungsu perempuan jadi dokter spesialis anak. Suaminya juga dokter, ahli bedah dan dosen di universitas Airlangga Surabaya

Kalau anak sulung ?

Dia petani, Nak, Tinggal di Godean, menggarap sawah warisan almarhum bapaknya.

Sang Profesor tertegun sejenak lalu dengan hati² bertanya:

Tentunya ibu kecewa kepada anak sulung ya bu, Kok tidak sarjana spt adik²nya.

Sama sekali tidak, nak. Malahan kami sekeluarga semuanya hormat kepada dia, karena dari hasil sawahnya dia membiayai hidup kami dan menyekolahkan semua adik²nya sampai selesai jadi sarjana.

Kembali sang Profesor merenung : “Ternyata yang penting bukan Apa atau Siapa kita, tetapi apa yang telah kita perbuat”.

Tuhan tidak akan menilai apa dan siapa kita tetapi apa “amal dalam hidup”kita.

Sebuah pelajaran hidup yg mengajarkan, agar kita melakukan yg terbaik tanpa berharap pujian……
Tanpa terasa air mata profesor mengalir di pipinya…

LAKUKAN YANG TERBAIK YANG BISA KITA LAKUKAN

Manfaatkan Momentum

?Manfaatkan Momentum

By Jamil Azzaini 

Saat kuliah dulu, saya mengidolakan seseorang. Ia alumni IPB, seorang pebisnis sekaligus konsultan. Saya pernah bertanya kepada beliau, “Mengapa bisnisnya tidak dikembangkan di tempat lain?” Ia menjawab, “Hidup itu perlu bersyukur, tidak boleh serakah, satu saja cukup lagian ngapain kita bersusah payah. Kalau kebanyakan nanti susah ngurusnya dan bisa bangkrut.”

Saat pertama kali saya mendengar jawaban itu, saya kagum dan berbisik dalam hati, “Orang ini tawadhu dan tidak serakah.” Namun setelah beberapa saat merenung, saya melihat kalimatnya itu bercampur aduk, ada kata yang baik dan positif tetapi ada kata yang berkesan menyerah sebelum bertanding.

Dan beberapa tahun kemudian, saya berjumpa dengan lelaki idola saya itu. Kata-kata yang keluar dari mulutnya kebanyakan keluhan, sumpah serapah, dan cerita tentang betapa beratnya kehidupan dan bisnis yang dijalaninya. Satu-satunya bisnis yang ia punya pun hidup segan mati tak mau, hanya sekedar cukup untuk biaya operasional dan menggaji karyawan. Ia tak menikmati hasilnya.

Ternyata momentum itu penting. Saat Anda punya kesempatan untuk mengembangkan bisnis maupun karir Anda, kembangkanlah seoptimal mungkin jangan mudah puas apalagi mudah menyerah. Kita memang perlu “serakah” dalam berbuat kebaikan apalagi mengembangkan sesuatu yang ada dan sudah kita miliki. Jangan bungkus ketakutan Anda dengan kata-kata positif yang tampak baik padahal itu menjerumuskan.

Saat Anda menjadi pemimpin atau karir Anda sedang melesat, manfaatkan momentum itu untuk membuat banyak prestasi, menciptakan tantangan-tantangan baru dan berani melakukan terobosan yang belum dilakukan pemimpin sebelumnya. Jangan mudah menyerah apalagi mengumpulkan ketakutan di dalam pikiran dan hati Anda.

Manfaatkan momentum apabila Anda ingin melesat melebihi yang lain, apalagi di era distruptif saat ini. Perubahan begitu cepat, momentum pun bisa hilang dalam waktu singkat. Memanfaatkan momentum caranya dengan action yang memberi impact besar. Segera bertindak, mulai sekarang. Go… Go… Go!

Shadaqatun Jariyah, sedekah berkelanjutan

Shadaqatun Jariyah, sedekah berkelanjutan

DULU, di Madinah, tidak terlalu jauh dari masjid Nabawi, ada sebuah properti sebidang tanah dengan sumur yang tidak pernah kering sepanjang tahun. Sumur itu dikenal dengan nama :Sumur Ruma (The Well of Ruma) karena dimiliki seorang Yahudi bernama Ruma.

Sang Yahudi menjual air kepada penduduk Madinah, dan setiap hari orang antri untuk membeli airnya. Di waktu waktu tertentu sang Yahudi menaikkan seenaknya harga airnya, dan rakyat Medinahpun terpaksa harus tetap membelinya. karena hanya sumur inilah yang tidak pernah kering. 

Melihat kenyataan ini, Rasulullah berkata, “kalau ada yang bisa membeli sumur ini, balasannya adalah Surga”. Seorang sahabat nabi bernama Usman bin Affan mendekati sang Yahudi. Usman menawarkan untuk membeli sumurnya. Tentu saja Ruma sang Yahudi menolak. Ini adalah bisnisnya, dan ia mendapat banyak uang dari bisnisnya.

Tetapi Usman bukan hanya pebisnis sukses yang kaya raya, tetapi ia juga negosiator ulung. Ia bilang kepada Ruma, “aku akan membeli setengah dari sumur mu dengan harga yang pantas, jadi kita bergantian menjual air, hari ini kamu, besok saya” Melalui negosiasi yang sangat ketat, akhirnya sang Yahudi mau menjual sumurnya senilai 1 juta Dirham dan memberikan hak pemasaran 50% kepada Usman bin Affan. 

Apa yang terjadi setelahnya membuat sang Yahudi merasa keki. Ternyata Usman menggratiskan air tersebut kepada semua penduduk Madinah. Pendudukpun mengambil air sepuas puasnya sehingga hari kesokannya mereka tidak perlu lagi membeli air dari Ruma sang Yahudi. Merasa kalah, sang Yahudi akhirnya menyerah, ia meminta sang Usman untuk membeli semua kepemilikan sumur dan tanahnya. Tentu saja Usman harus membayar lagi seharga yang telah disepakati sebelumnya. 

Hari ini, sumur tersebut dikenal dengan nama Sumur Usman, atau The Well of Usman. Tanah luas sekitar sumur tersebut menjadi sebuah kebun kurma yang diberi air dari sumur Usman. Kebun kurma tersebut dikelola oleh badan wakaf pemerintah Saudi sampai hari ini. Kurmanya dieksport ke berbagai negara di dunia, hasilnya diberikan untuk yatim piatu, dan pendidikan. Sebagian dikembangkan menjadi hotel dan proyek proyek lainnya, sebagian lagi dimasukkan kembali kepada sebuah rekening tertua di dunia atas nama Usman bin Affan. Hasil kelolaan kebun kurma dan grupnya yang di saat ini menghasilkan 50 juta Riyal pertahun (atau setara 200 Milyar pertahun) 

Sang Yahudi tidak akan penah menang. Kenapa? 

Karena visinya terlalu dangkal. Ia hanya hidup untuk masa kini, masa ia ada di dunia. Sedangkan visi dari Usman Bin Affan adalah jauh kedepan. Ia berkorban untuk menolong manusia lain yang membutuhkan dan ia menatap sebuah visi besar yang bernama Shadaqatun Jariyah, sedekah berkelanjutan.

 Sebuah shadaqah yang tidak pernah berhenti, bahkan pada saat manusia sudah mati. 
Masya’ Allah

Terapi Mengatasi Gula Darah

“Terapi Mengatasi Gula Darah”
(Muhammad Zahroni di Madinah Munawwarah)

Aku dapati penyakit diabetes yang aku derita mencapai 500 mg. Lalu stlh 1 bln lakukan diet ketat dan olah raga, gula darahku turun jd 300 mg (keadaan tdk puasa) dan 200 mg (puasa). Tdk terlalu signifikan.

Lantas aku putuskan utk konsumsi minyak zaitun. Suatu hal yg luar biasa terjadi, stlh 3 hari konsumsi Minyak Zaitun, gula darahku turun jadi 180 mg, atau turun sktr 100 mg (dr kondisi awal). 3 hari  berikutnya, turun jadi hanya 93 mg (tdk puasa). Stlh mengetahui semua hasil ini, timbul bbrp pertanyaan, Apkh minyak zaitun pengobatan smntr, atau si pasien harus terus mengkonsumsinya?

Apkh minyak zaitun mampu memompa kinerja pankreas lbh baik? Atau minyak zaitun hanya menyerap kadar gula berlebih dlm darah?

Atau ia mampu bantu enzim insulin utk masuk terserap ke dlm sel?

Tapi fakta yg paling penting, kadar gula darah benar2 turun.

Nah, dosisku utk konsumsinya :
– Dua sendok mkn sblm tidur,
– Dan dua sendok mkn stlh bangun tidur.
Dr hasil penelitianku ternyata yg terbaik adlh konsumsi saat stlh bangun tidur.

Hasil penelitian ini aku tulis stlh bbrp bln kmdn, dan alhamdulillah slma itu kadar gula darahku tetap normal.

Aku pun melakukan penelitian thd bbrp org pasien, yg meñghasilkan sebuah kesimpulan positif yakni :

1. Bhw tubuh manusia ber-beda2 dlm merespon minyak zaitun, ada yg langsung menurun (gula darahnya) 100 mg pada hari pertama, namun ada pula yg menurun setelah 3 hari. Tapi hasilnya sgt baik.
2. Mayoritas mengatakan telah sembuh organ dalam mrk, terutama pankreas.
3. Tanda2 diabetes mrk menurun drastis bhkn hilang, spt rasa panas dingin di tapak kaki ketika malam hari, atau seringnya buang air kecil.
4. Bbrp teman mulai meninggalkan obat2an dokter.
5;. Tdk seorangpun mengeluh efek samping buruk dr minyak zaitun. Dan ini merupakan nikmat dr Allah.??

Seminar Prof. Hassan Syamsi Basya.
_Minyak Zaitun = Olive Oil

Ayooo kita coba para diabetans_.

Silahkan dishare agar banyak orang yg sembuh dr diabetes.
Wassalam

Tanzil – Quran

Jalan Islam

Zekr